20140805101128140720828853e04b60691351

Ini Dia 3 Hakim Agung yang Menghukum Perusak Lingkungan Rp 32 Miliar

Drama hukum gugatan Menteri Lingkungan Hidup (LH) berakhir manis. Dua kali menang di pengadilan tingkat pertama dan banding, gugatan Menteri LH tiba-tiba kandas di tingkat kasasi. Namun akhirnya majelis peninjauan kembali (PK) membalik kembali keadaan dan menghukum perusak lingkungan sebesar Rp 32 miliar.

Perusak lingkungan itu adalah PT Selatnasik Indokwarsa dan PT Simbang Pesak Indokwarsa. Dua perusahaan yang bernaung dalam satu korporasi itu merusak hutan cagar alam di Desa Simpang Pesak, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung dengan membabi buta. Pohon-pohon ditebang, tanah dikeruk hingga 13 meter, pantai diuruk hingga ekosistem pun hancur. Atas perbuatan itu, PT Selatnasik Indokwarsa dan PT Simbang Pesak Indokwarsa digugat Menteri LH sebesar Rp 32 miliar.

Pada 3 Februari 2010, PN Jakut mengabulkan seluruh gugatan Menteri LH tersebut. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta pada 18 April 2011. Anehnya, putusan itu dianulir oleh MA lewat putusan kasasi pada 16 Agustus 2012. Atas putusan kasasi itu, Menteri LH lalu mengajukan PK dan dikabulkan.

“Membatalkan putusan MA No 499 K/Pdt/2012 tanggal 16 Agustus 2012,” putus MA yang diketuai hakim agung Dr M Saleh sebagaimana dikutip detikcom dari website MA, Selasa (5/8/2014).

084713_msholehdepanarisaputra1M Saleh selain sebagai hakim agung juga sebagai Wakil Ketua MA bidang Yudisial. Saleh bukan orang baru yang berkecimpung di dalam dunia penegakan hukum. Selama 43 tahun melanglang Indonesia sebagai hakim, Saleh memulai karir sebagai calon hakim pada 1971 dan diangkat sebagai hakim dua tahun setelahnya sebagai hakim di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Pada saat itu, Atambua sedang mengalami konflik politik dengan Fretelin.  Selama 7 tahun, Saleh terbiasa hidup di tengah konflik dan setelah itu dia tugas keliling ke seluruh penjuru Indonesia.

Puncak karier Saleh diraih saat didapuk menjadi Wakil Ketua MA bidang Yudisial pada 2013 lalu. Saat itu Saleh memperoleh 22 suara dalam satu putaran. Dia mengungguli pesaingnya, Suwardi dengan perolehan 17 suara. Adapun Suwardi belakangan juga menduduki kursi Wakil Ketua MA bidang Nonyudisial.

Selain M Saleh, kasus PT Selatnasik Indokwarsa dan PT Simbang Pesak Indokwarsa juga diadili oleh hakim agung Prof Dr Abdul Manan dan hakim agung Dr Zahrul Rabain. Dalam putusan yang diketok pada 23 Mei 2014 lalu, majelis PK mengabulkan seluruh permohonan Menteri LH.

 “Menyatakan Tergugat I dan tergugat II telah melakukan perbuatan melangar hukum perusakan lingkungan hidup dan bertanggungjawab secara mutlak,” putus majelis PK.

DSiapa Abdul Manan? Hakim agung dari jalur Pengadilan Agama itu mengawali karier sebagai hakim Pengadilan Agama Pemalang pada tahun 1976. Suami dari Rubiati itu menduduki kursi hakim agung sejak 2003 lalu. Di bidang akademik, gelar doktornya diraih pada 2004 dari Universitas Sumatera Utara dan pada tanggal 26 Oktober 2007 dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) di bidang hukum. 

zahrAdapun hakim agung Rabain merupakan hakim agung yang paling junior di majelis tersebut. Sewaktu menjadi Ketua Pengadilan Negeri (PN) Bangko di Provinsi Jambi Tahun 2000, Rabain pernah menjatuhkan vonis mati terhadap 3 orang terdakwa kasus pembuhunan sadis sekeluarga. 30 Tahun malang melintang di peradilan umum, Rabain akhirnya menjadi hakim agung pada 2013 lalu.

Sumber :

http://news.detik.com/read/2014/08/05/084203/2653274/10/ini-dia-3-hakim-agung-yang-menghukum-perusak-lingkungan-rp-32-miliar?nd772204btr, Selasa, 05/08/2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *